Jumat, 28 Desember 2012

Sebuah Renungan bag 1

Ketika kita jatuh cinta, dan mendambakan seseorang jadi jodoh kita. . .
Namun kita tetap diam, mengendalikan hati untuk tidak tergesa-gesa mengutarakannya, maka yang ada adalah harapan. . .

Do’a kebaikan untuknya tak lupa kita panjatkan..
Semoga dia mampu menjadi hamba yang beriman..
Mengisi hari dengan kebaikan..

Karena Sebelum pernikahan, Cinta bisa jadi ujian keimanan.

Semoga saja Allah mempertemukan, dan mempersatukan di saat yang tepat..
Saat dimana hanya ada perkenalan dengan cara islam yang berakhir dengan lamaran, bukan dengan hubungan bernama Pacaran.

Jika Allah TIDAK menghendaki kita berjodoh dengannya karena mungkin ada seseorang yang lebih baik dari kita untuknya, dan ada yang lebih baik dari dia untuk kita. . .
itulah nilai kepasrahan.

copas Aini Syiifa Rifqun

.. “SETELAH DIMILIKI, TAK LAGI INDAH” ...



Bismillahir-Rahmaanir-Rahim .. Yang tinggal di gunung merindukan pantai .. Yang tinggal di pantai merindukan gunung ...

Di musim kemarau merindukan musim hujan ..
Di musim hujan merindukan musim kemarau ...

Yang berambut hitam mengagumi yang pirang ..
Yang berambut pirang mengagumi yang hitam ...

Diam di rumah merindukan bepergian ..
Setelah bepergian merindukan rumah ..

Ketika masih jadi karyawan ingin jadi Entrepreneur
supaya punya time freedom…
Begitu jadi Entrepreneur ingin jadi karyawan, biar gak pusing…

Waktu tenang mencari keramaian ..
Waktu ramai mencari ketenangan ...

Saat masih bujangan, pengin punya suami ganteng/istri cantik ..
Begitu sudah dapat suami ganteng/istri cantik, pengin yang biasa2 saja, bikin cemburu aja/ takut selingkuh ...

Punya anak satu mendambakan banyak anak ..
Punya banyak anak mendambakan satu anak saja ...

Kita tidak pernah bahagia sebab segala sesuatu tampak indah
hanya sebelum dimiliki .. Namun setelah dimiliki tak indah lagi ..

Kapankah kebahagiaan akan didapatkan kalau kita hanya selalu memikirkan apa yang belum ada, namun mengabaikan apa yang sudah dimiliki ?

“Jadilah pribadi yang selalu bersyukur. ..
Bersyukurlah senantiasa dengan berkah Yαng sudah kita miliki”.

“Bagaimana mungkin selembar daun yang kecil dapat menutupi bumi yang luas ini?

Jangankan bumi, menutupi telapak tangan saja sulit ...

Namun bila daun kecil ini menempel di mata kita, maka tertutuplah bumi!”

Begitu juga bila hati ditutupi pikiran buruk sekecil apapun maka kita akan melihat keburukan di mana-mana ...
Bumi ini pun akan tampak buruk ...

Jangan menutup mata kita, walaupun hanya dengan daun yang kecil ..

Jangan menutupi hati kita, walaupun hanya dengan sebuah pikiran buruk/negatif! .. Bila hati kita tertutup, tertutuplah semua ..

Syukuri apa yg ada, karena hidup adalah anugerah bagi jiwa jiwa yg ikhlas ...

*****

Semoga kita dapat mengambil pengetahuan yang bermanfaat dan bernilai ibadah ..

Copas Fb Aini Syifa Rifqun

Saat Si Kecil Tumbuh dalam Rahimku

Artikel ini di salin kembali dari Majalah Syariah Edisi 1, (ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Abdirrahman Anisah), Semoga Bermanfaat Bagi akhwatifiillah, calon ummahat maupun ummahat :-)
Bacalah dgn terlebih dahulu menyebut nama Allah, Bismillahirrahmanirrahim...


Orang tua berharap anaknya menjadi anak yang shalih adalah biasa. Sayangnya, tidak banyak orang tua yang mau menempuh jalan yang bisa menyampaikan terwujudnya harapan itu. Padahal Islam telah banyak memberikan bimbingannya baik di dalam Al-Qur`an maupun As-Sunnah, termasuk saat masih di dalam rahim.
Anak adalah sosok mungil idaman yang sangat dinanti kehadirannya oleh sepasang ayah bunda. Semenjak melangkah ke jenjang pernikahan, mereka berdua telah menumbuhkan harapan akan lahirnya si buah hati. Mereka terus memupuk harapan itu dengan menjaga calon bayi yang memulai kehidupannya di rahim ibunya, hingga saatnya hadir di dunia.
Setiap orang tua tentu menginginkan anaknya lahir dalam keadaan yang sebaik-baiknya. Segala upaya dikerahkan untuk mewujudkan keinginan mereka. Tentu tak patut dilupakan sisi-sisi penjagaan dan pendidikan yang telah diajarkan oleh Allah I dan Rasul-Nya. Bahkan dengan inilah, orang tua akan mendapatkan kemuliaan, bagi anaknya maupun diri mereka.
Dapat disimak pengajaran ini dalam indahnya Sunnah Rasulullah r. Di sana didapati bimbingan yang sempurna untuk kita terapkan dalam mendidik anak. Bahkan sebelum hadirnya sosok mungil itu pun Islam telah memberikan tuntunan penjagaan. Terus demikian tuntunan itu secara runtut didapati hingga saat melepas anak menuju kedewasaan.
Saat Kedua Orang Tua Bertemu
Inilah tuntunan Islam sebelum bertemunya dua mani yang menjadi bakal janin dengan izin Allah I. Usai pernikahan, ketika sepasang pengantin bertemu untuk pertama kalinya, disunnahkan mempelai pria memegang ubun-ubun istrinya dan mendoakannya. Didapati hal ini di dalam ucapan Rasulullah r:
“Apabila salah seorang dari kalian menikahi seorang wanita atau membeli seorang budak, maka hendaknya ia memegang ubun-ubunnya, menyebut nama Allah dan mendoakannya dengan barakah, serta mengucapkan, ‘Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan seluruh sifat yang Engkau jadikan padanya dan aku memohon perlindungan-Mu dari kejelekannya dan kejelekan sifat yang Engkau jadikan padanya.’ Apabila ia membeli unta, maka hendaknya ia pegang ujung punuknya dan berdoa seperti itu juga.” (HR. Al-Imam Al-Bukhari dalam Af’alil ‘Ibad  dan Al-Imam Abu Dawud, Ibnu Majah, Al-Hakim, Al-Baihaqi, dan Abu Ya’la dalam Musnad-nya dengan sanad hasan, dan dishahihkan Al-Imam Al-Hakim dan disepakati Al-Imam Adz-Dzahabi. Lihat Adabuz Zifaaf fis Sunnatil Muthahharah, hal. 20, karya Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani t)
Dalam suasana pengantin baru, sang mempelai tak lepas dari tuntunan Rasulullah r. Demikian  pula ketika kehidupan rumah tangga terus berlangsung. Rasulullah r juga memberikan bimbingan kepada setiap suami istri untuk mulai menjaga calon anak mereka ketika mereka hendak bercampur (jima’). Beliau bersabda:
“Apabila salah seorang dari kalian ketika mendatangi istrinya mengatakan: ‘Dengan nama Allah, ya Allah, jauhkanlah setan dari kami dan jauhkanlah setan dari apa yang engkau rizkikan kepada kami’, jika Allah tetapkan terjadinya anak, setan tidak akan dapat memudharatkannya selama-lamanya.” (Shahih, HR. Al-Imam Al-Bukhari)
Ibnu Hajar di dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa maksud perkataan Rasulullah r “Setan tidak akan memudharatkannya” yaitu setan tidak akan memalingkan anak itu dari agamanya menuju kekafiran, dan bukan maksudnya terjaga dari seluruh dosa(‘ishmah).
Menjaga Janin dari Hal-hal yang Menggugurkannya
Ketika benih telah mulai tumbuh, banyak upaya yang bisa dilakukan oleh calon orang tua untuk menjaga janin yang ada di perut ibunya. Si calon ibu akan mulai memilih makanannya, mengkonsumsi segala macam vitamin yang dapat menunjang kehamilannya, menjaga waktu istirahatnya, melakukan olah raga khusus, dan mengatur aktivitasnya. Tak lupa mereka memantau keadaan calon bayi dengan terus memeriksa kesehatannya.
Akan tetapi, adakalanya janin gugur bukan karena semata sebab medis. Terkadang ada sebab lain yang mengakibatkan gugurnya kandungan seorang ibu. Ini kadang-kadang tidak disadari oleh kebanyakan orang.
Semestinya kita mengetahui peringatan Rasulullah r dari hal-hal semacam ini yang diterangkan oleh syariat, sebagaimana Rasulullah r memerintahkan untuk membunuh ular yang disebut dengan dzu thufyatain yang dapat menyebabkan gugurnya janin. Beliau bersabda:
“Bunuhlah dzu thufyatain, karena dia dapat membutakan mata dan menggugurkan janin.” (Shahih, HR. Al-Imam Al-Bukhari)
Apakah dzu thufyatain? Dijelaskan oleh Ibnu ‘Abdil Bar t bahwa dzu thufyatain adalah jenis ular yang mempunyai dua garis putih di punggungnya.
Perintah Rasulullah r ini menunjukkan wajibnya menjaga dan menjauhkan hal-hal yang dapat membahayakan janin, dan ini merupakan salah satu pintu penjagaan dan perhatian syariat ini terhadap janin dan keadaannya.
Keringanan bagi Wanita Hamil untuk Berbuka
Tak jarang kondisi seorang ibu yang mengandung calon bayi di dalam rahimnya lemah. Suplai makanan yang dikonsumsinya harus terbagi untuk dirinya dan untuk janin yang ada di dalam kandungannya. Sementara ketika bulan Ramadhan tiba, kaum muslimin diwajibkan untuk melaksanakan puasa, menahan lapar dan dahaga dari terbitnya fajar hingga tenggelamnya bulatan matahari. Dengan ilmu dan hikmah-Nya, Allah I memberikan keringanan kepada hamba-hamba wanita-Nya yang sedang hamil dan menyusui untuk tidak menjalankan kewajiban berpuasa.
Ini dijelaskan dalam sabda Rasulullah r:
“Sesungguhnya Allah Yang Maha Mulia dan Maha Tinggi menggugurkan separuh shalat atas orang yang bepergian dan menggugurkan kewajiban berpuasa dari wanita yang hamil dan menyusui.” (HR. Al-Imam At-Tirmidzi, An-Nasa`i, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan sanadnya hasan sebagaimana dikatakan oleh Al-Imam At-Tirmidzi.
Dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan An-Nasa`i dan dalam Shahih Sunan Ibnu Majah no. 1353, beliau berkata: hadits hasan shahih)
Abdullah ibnu ‘Abbas c memberikan penjelasan bahwa jika seorang wanita hamil mengkhawatirkan dirinya dan wanita yang menyusui mengkhawatirkan anaknya selama Ramadhan, maka keduanya berbuka (tidak berpuasa) dan setiap hari memberi makan satu orang miskin serta tidak meng-qadha puasanya.
Inilah bentuk-bentuk penjagaan Islam terhadap anak sebelum ia lahir ke dunia. Terlihat dengan gamblang perlindungan agama Allah I ini terhadap jiwa seorang manusia. Terbaca dengan jelas kasih sayang Allah I bagi seluruh hamba-Nya. Oleh karena itu, selayaknya ayah dan bunda memperhatikan penjagaan buah hati mereka.
“Barangsiapa yang menjaga kehidupan satu jiwa, maka seakan-akan ia menjaga kehidupan seluruh manusia.” (Al-Maidah: 32)
Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.

Lirik Ost. Ainun&Habibie

Manakala hati menggeliat mengusik renungan
Mengulang kenangan saat cinta menemui cinta
Suara sang malam dan siang seakan berlagu
Dapat aku dengar rindumu memanggil namaku

Saat aku tak lagi di sisimu
Ku tunggu kau di keabadian
Aku tak pernah pergi, selalu ada di hatimu
Kau tak pernah jauh, selalu ada di dalam hatiku

Sukmaku berteriak, menegaskan ku cinta padamu
Terima kasih pada maha cinta menyatukan kita
Saat aku tak lagi di sisimu
Ku tunggu kau di keabadian
Cinta kita melukiskan sejarah

Menggelarkan cerita penuh suka cita
Sehingga siapa pun insan Tuhan
Pasti tahu cinta kita sejati
Saat aku tak lagi di sisimu

Ku tunggu kau di keabadian
Cinta kita melukiskan sejarah
Menggelarkan cerita penuh suka cita
Sehingga siapa pun insan Tuhan

Pasti tahu cinta kita sejati
Lembah yang berwarna
Membentuk melekuk memeluk kita
Dua jiwa yang melebur jadi satu
Dalam kesunyian cinta

Cinta kita melukiskan sejarah
Menggelarkan cerita penuh suka cita
Sehingga siapa pun insan Tuhan
Pasti tahu cinta kita sejati

Senin, 24 Desember 2012

Bil Hikmah wal mauizatil Hasanah


oleh Rahayu Abdullah

Nasehat dalam Al Qur’an dan HaditsDalam perjalanan hidup, nasehat-menasehati merupakan pilar yang sangat utama, bahkan merupakan kewajiban bagi orang yang beriman setiap waktu. Hal ini dapat dilihat dari surah Al Ashr. Surah ini merupakan pegangan paling kuat dalam menjalankan nasehat-manasehati. Bahkan Imam Syafiie, seorang ulama fiqih yang masyhur itu, menyatakan bahwa, jika al-qur’an pun hanya surah al ashr, maka cakupan maknanya sudah cukup.Dalam surah ini Allah swt bersumpah atas nama waktu (Ashr). Secara bahasa ashr bermakna memeras dan menekan sesuatu hingga apa yang di dalam sesuatu itu keluar. Maka ashr menjadi nama suatu waktu dimana orang yang kerja seharian memeras keringat mulai terbit matahari, pekerjaannya itu telah muali menampakkan hasil. Dan waktu menampakkan hasil itulah disebut waktu ashr. Dan memang dalam kehidupan keseharian adalah demikian, dimana orang kerja dari pagi buta makan hasilnya akan tampak maksimal di waktu ashr.Demi waktu sesungguhnya manusia itu dalam kondisi husrin, apapun hasilnya dari memeras keringat seharian atau sepanjang waktu hidupnya, baik itu sukses atau gagal, kaya atau pun miskin, maka sudah disumpah oleh Allah, pasti husrin. Husrin ini biasanya diterjemahkan dalam arti merugi, padahal sesungguhnya husrin ini adalah mencakup semua makna yang berkaitan dengan rugi yakni bangkrut, menderita, kolaps, sedih, susah, sengsara dan semua kondisi yang serupa sesungguhnya dicakup dalam kata husrin.
Apapun hasil kerja sepanjang hidupnya pasti dalam keadaan husrin. Namun Allah swt memberikan kekecualian yang ditunjukkan pada ayat sesudahnya di surah al ashr ini. Kekecualian ini adalah pada orang yang beriman dan beramal shalih dan saling menasehati dalam al haq dan saling menasehati dalam kesabaran.Jika ditelaah lebih lanjut, orang yang beriman memang tidak lagi merugi tetapi belum beruntung, karenanya ayat itu dilanjutkan dengan kata ‘wa’ yang artinya dan , yakni beramal shalih. Orang yang beriman dan beramal shalih pun belum beruntung, karena ayat itu masih dilanjutkan dengan kata ‘wa’ yakni saling menasehati dalam al haq. Dalam hal ini terjemahan al-Qur’an disebutkan saling menasehati dalam kebenaran, namun jika ditilik lebih dalam maka Al Haq adalah salah satu dari Asma’ul husna, artinya al Haq adalah nama Allah , sehingga watawasau bil haq dapat diartikan lebih spesifik yakni saling menasehati agar senantiasa di jalan Allah (jalan al Haq) . Tentu dalam hal ini bermakna dakwah, sebab saling menasehati agar senantiasa di jalan Allah adalah dakwah. Namun demikian, orang yang berdakwah setelah beriman dan beramal shalih pun belum akan memperoleh keberuntungan, sebab ayat itu masih dilanjutkan dengan kata ‘wa” tawassau bisshabr. yang artinya adalah saling menasehati dalam hal kesabaran. Jika dianalisa maka arti maknanya adalah saling menasehati agar senantiasa sabar dalam menjalani hidup beriman dan beramal shalih, dan sabar dengan jalan hidup berdakwah.
Memang kata yang digunakan dalam surah ini adalah tawasau, artinya saling memberi
Memang kata yang digunakan dalam surah ini adalah tawasau, artinya saling memberi Memang kata yang digunakan dalam surah ini adalah tawasau, artinya saling memberi wasiyat . Nah dengan demikian nasehat pun sesungguhnya identik dengan wasiyat.
Dalam HaditsRasulullah saw, telah bersabda yang kita semua sudah mengetahuinya yakni “addiinu nashihat” – agama adalah nasehat . Ini menekankan bahwa nasehat merupakan jalan hidup, merupakan pilar utama dalam islam.
Bagaimana sikap dalam menasehati.Dalam Al-qur’an, kisah tentang bagaimana menasehati ini termaktub dalam kisah Musa as diperintah oleh Allah untuk mendatangi Fir’aun. Musa as diperintahkan oleh Allah untuk memberikan nasehat dakwahnya kepada Fir’aun dengan ‘’qaulan layyinan” perkataan yang lembut. Bagaimana caranya memberi nasehat kepada manusia yang sangat tegas kekafirannya dan menjadi puncak lambang kekafiran, pun dengan qaulan layyinan. Maka dari situlah nabi Musa as berdoa dengan Rabis rahli sadri wayasrlii amrii………Tersebut dalam kisah, ada seorang yang datang kepada Khalifah Al Makmun, memberikan nasehat dengan suara lantang dan kasar, dengan nada tinggi. Maka saat itu Al Makmun memberikan jawaban bahwa, ‘Anda tidak lebih baik dari nabi Musa, dan saya tidak lebih buruk dari Fir’aun, nabi Musa mendatangi Fir’aun dengan perkataan lembut, sedangkan Anda dengan kata yang kasar.
Jika memberi nasehat kepada orang sesama muslim maka pedomannya adalah dengan perkataan yang lembut dan ‘adzilatin alal mukminin” – bersikap lemah lembut kepada orang mukmin .
Bahkan dalam hadits rasulullah mengajarkan kita untuk bersuara dengan nada yang tidak lebih tinggi dari saudara sesama muslim. Banyak keutamaan yang didapat dari merendahkan nada suaranya, dan meninggikan nada suaranya menunjukkan mudahnya dijangkiti penyakit sombong. Bahkan suara yang nadanya tinggi diserupakan dengan serengaian keledai.
Terkisah banyak sahabat yang sedih dan mengurungkan diri di dalam kamarnya beberapa hari setalah turun ayat yang menyuruh ‘rendahkanlah suaramu di hadapan rasulullah” karena para sahabat merasa selama ini menggunakan nada tinggi dihadapan rasulullah.Bagaimana Mengkritik dalam berdakwah.Menasehati dalam dakwah, pun tidak terlepas dari tuntunan Al Quran. Cara berdakwah disebutkan adalah, dengan bil hikmah wal mauizatil hasanah wa jadilhum billati hiyal ahsan . Jika ditilik dari urutan teksnya maka dalam memberikan nasehat dakwahnya yang pertama adalah dengan hikmah. Ini adalah dakwah yang paling pertama yang hendaknya digunakan. Jika dengan hikmah orang sudah bisa menerima dakwah maka tidak perlu sampai menggunakan mauizatil hasanah (nasehat yang baik/ bijak) apalagi dengan jidal (mengadu argument), meskipun dengan jidal yang terbaik sekalipun.
Bila dakwah dilakukan dengan cara terbaik yang mendahuluhan nasehat yang bijak sebelum hikmah, maka sesungguhnya tidak akan efektif dan tidak methodis, disamping kurang dalam nilai etika dakwahnya. Apalagi jika dakwah dilakukan dengan pertama kali jidal tentu tidak akan menuai hasil yang baik. Meskipun kapan menggunakan hikmah, kapan menggunakan mauizatil hasanah dan kapan menggunakan jidal itu tergantung situsi kondisi dan juga objek dakwahnya.Jika ditelaah lebih lanjut, hikmah sangat bagus digunakan untuk orang yang lebih muda kepada orang tua, mad’u yang tidak sedang melakukan khilaf, juga kepada orang yang dihormati.terkisah ada seorang ulama yang sangat sedih dan sangat merasa kehilangan ketika putranya meninggal, sampai berlarut-larut. Maka memberikan nasehat kepadanya adalah dengan hikmah, dengan pertanyaan;“bagaimana pendapat Anda wahai ulama, jika seseorang dititipin emas oleh penitip dan emas itu diambil kembali oleh yang empunya? apakah perlu sedih berlarut-larut dan tidak ikhlas?, maka sang ulama tersadar akan pertanyaan itu atas kematian putranya dengan menjadi ikhlas. Tidak elok jika memberikan mauizail hasanah kepada ulama itu. Di dalam mengelola taklim pun demikian, audien akan lebih merasa dihargai jika penceramah lebih mengedepankan hikmah daripada mauizatil hasanah. Potensi dan kegemaran menasehati perlu ditahan dalam hal ini dengan lebih melebarkan cara, topik dan tema-tema yang masuk dalam wilayah hikmah.
Mauizatil hasanah (nasehat yang bijak) diberikan kepada orang yang sedang khilaf, kepada orang yang lebih muda, kepada murid, kepada orang yang posisinya lebih bawah. Misal seorang ayah kepada anaknya, atau guru kepada muridnya. Termasuk dalam kategori tidak begitu beradap jika seorang anak meggunakan mauizatil hasanah kepada bapaknya, istri menggunakannya kepada suaminya, seorang mutarabi kepada murobinya, seorang murid kepada ustadznya.Jidal ahsan dilakukan jika cara hikmah dan mauizatil hasanah tidak mempan, ini pilihan terakhir. Da’i yang gemar jidal dan menjadikan jidal sebagai cara awal untuk berdakwah, biasanya mad’u akan lari dan tidak menerima dakwah, terkadang malah menjadi sinis. Jika pun berhasil maka akan menghasilkan dai-dai yang suka jidal dan tidak efektif membawa masyarakat secara luas menjadi mukmin.Di sinilah Ust Hasan Al Bana menyampaikan slogan likulli maqal maqam wa likulli maqam maqal, setiap tempat ada perkataan yang pas dan setiap perkataan ada tempat-tepatnya yang pas.
Bagaimana dengan mengkritik ?. Maka mengkritik adalah bagian dari mauizatil hasanah, bukan bagian dari hikmah, meskipun ada sebagian orang yang bisa mengemas kritik dengan hikmah.Demikian juga dalam konsep bermasyarakat, ada Roin dan ada Rokyah, yang secara arti adalah adapemimpin dan ada rakyat, yang keduanya ada hak dan kewajiban.
Dalam hal ini roin berkewajiban mensejahterakan rakyat dan memiliki hak untuk ditaati, dan rakyat memiliki hak untuk disejahterakan dan berkewajiban mentaati roin. Jika roin tidak mensejahterakan rakyat maka rakyat pun menjadi tidak taat kepada roin.Dalam hubungan nasehat, maka roin memberi perintah kepada rakyat dan rakyat bisa mengkritik pemimpin. Tidak bisa sebaliknya misalnya pemerintah mengkeritik rakyatnya atau rakyat memerintah roinnya, yang ada adalah rakyat mengkritik dan menuntut roinnya. Hal ini sama dengan hal dalam rumah tangga, suami sebagai pemimpin tidak mengkritik istrinya, tetapi istrinya yang mengkritik suaminya. Jika suami tidak siap dikritik istri maka kadar kepemimpinannya sangat rendah, demikian juga jika istri tidak mau diperintah suami, maka juga demikian. Dalam hubungan pemerintah juga demikian, oposisi mengekritik pemerintah dan tidak bisa sebaliknya pemerintah mengkritik oposisinya. Dengan demikian orang yang suka mengkritik biasanya memiliki kadar kepemimpinan yang tidak tinggi dan tidak menjadi pemegang kebijakan tetapi biasanya menjadi oposan. Oposan biasanya mengkritik dan tidak siap dikritik. Jika seseorang siap dikritisi adalah seseorang yang siap jadi pemimpin, jika tidak siap maka tidak siap mengelola suatu amanah. Jika seorang roin tidak siap menerima kritik rakyatnya makan sungguh aneh dan apalagi roin mengkritik rakyatnya akan lebih aneh lagi.Dalam mengkritisi pun tidak lepas dari kaidah qaulan layyinan, hikmah dan mauizatil hasanah serta jidal sebagai jalan akhir. Siap menerima kritikan berarti siap menjadi pemimpin.

Terkadang dalam mengkritik yang dikritik adalam pengelolaan pemerintahan, atau suatu organisasi, terkadang personal roinnya. Orang yang kritis biasanya ditempatkan pada posisi oposisi bukan eksekutif, dan biasanya tidak diterima di eksekutif karana belum imbangnya dengan kesiapan untuk dikritisi. Dan dari sana ia memberikan manfaat, sebagai penyeimbang

Sabtu, 22 Desember 2012

Perjalanan Ayah

Desa Fajar-esuk, Sebuah Desa nan hijau di kecamatan Prigsewu Kabupaten Tanggamus Lampung, di sanalah Ayah dilahirkan dari sebuah keluarga Petani. Orang tua beliau berasal dari tanah jawa, kemudian transmigrasi ke lampung. Ayah anak kelima dari sembilan bersaudara. Dari kecil Ayah sdh biasa hidup prihatin, ulet, dan bersahaja. Yang menjadikannya di kemudian hari menjadi seorang pria yang terampil. Masa-masa sekolah beliau hijrah ke Bandung Jawa Barat mengikuti salah seorang adik dari Ibunya, Hingga Lulus STM setara SMA. Beliau sekolah sambil bekerja membantu  (panggilan utk adik Ibunya, Mbah putriku tercinta). Waktu itu Keadaan Ekonomi  nya Ayah atw yg biasa ku panggil-boru(krn menikah dgn suaminya yg org Batak) sangat sulit. Sehingga Ayahku semakin giat bekerja membantu , dgn tdk mengabaikan sekolahnya. Lulus STM(Sekolah Teknik Mesin),  menjalani pendidikan di SPN(Sekolah Kepolisian Negara). Dan Tugas pertama nya di tempatkan diperbatasan Kalimantan Barat, dgn gaji pertama Rp 4000,- . Perjalanan panjang, beliau seringkali berpindah-pindah tempat tugas, hingga suatu hari beliau di tugaskan di POLSEK Batu Ampar. Itu terjadi sekitar Tahun 1985-1986, waktu itu Batu Ampar sdg Jaya-jaya nya, krn terdapat beberapa perusahaan2 besar yang mengelola kayu. Batu Ampar, skrg masuk Kab. Kubu Raya, sebuah pulau yang dikelilingi Lautan. Dahulu Kapal2 besar slalu singgah di sini, para pekerja yg mayoritas dr pulau jawa pun berbondong2 mencari nafkah di pulau ini. Ampar. Nah di  ini-lah Ayah bertemu dgn seorang Guru SD dan Jatuh hati kpdnya. Kemudian pd Bulan Agustus 1988 mereka Menikah. Ayah itu bisa jadi koki, karena kepintarannya memasak, Beliau jg bisa jadi Tukang, karena keahliannya membuat furniture, meja, lemari, tempat tidur dll. Hobby beliau yg lain yaitu memancing, menjala udang dan ikan, kdg klu berlebih hasilnya di jual.Tak terlalu lama setelah menikah, Ibu mengandung anak pertamanya.  Pada Hari Minggu, 20 Agustus Tahun 1989,  dikaruniai seorang putri yang Lahir di Rumah Sakit Kesdam Pontianak.Putri Pertama nya ini di beri nama : "Retno Rahayu Priyati". Retno = Bunga, Rahayu = Selamat, Priyati = Sederhana, qanaah, mau hidup prihatin.. "

Anak-anak Lebih senang Bermain

Mari qt renungkan bersama sebuah artikel dari Ayah Edi ini :

Apakah kita sering bermain saat sedang bekerja..? Mungkin karena dulu kita termasuk anak-anak yg kurang bermain karena terpaksa/dipaksa harus belajar, belajar tiada henti dan mengerjakan PR yg bertumpuk tiada habisnya. Padahal saat itu Tuhan merancang kita sebagai mahluk kecil yg tugasnya bermain.

Mengapa kita alergi melihat anak kita bermain. Yang pertama karena dulu orang tua kita juga alergi melihat kita bermain (faktor warisan orang tua). Yg kedua perngaruh lingkungan yg mengatakan bahwa jika anak rajin belajar maka jd orang sukses dan jika anak terlalu banyak bermain jadi orang gagal. Kita lupa pada fakta sejarah, seolah-olah orang-orang yg sukses saat ini dulu waktu kecilnya tidak pernah bermain dan selalu belajar.

Fakta sejarah justru menunjukkan sebaliknya; Leonardo da Vinci sang Jenius Dunia di segala bidang, dulu waktu kecilnya selalu bermain keliling kota Vinci bersama kakeknya. Thomas Edison selalu bermain di Garasinya yg dia katakan sebagai Laboratorium, Albert Einstein selalu bermain di danau bersama perahunya, saat ia tidak menyukai pelajaran di sekolahnya, dan banyak lagi tokoh sukses lainnya yang pada masa kecilnya justru sangat puas bermain. Davinci, Edison dan Einstein kecil ini tidak menyadari bahwa malalui bermain itulah justru sebenarnya mereka banyak belajar.

Itulah mengapa AS Neil mendirikan sebuah sekolah di Inggris “THE SUMMER HILL” School, yg membolehkan setiap anak untuk bermain dan memilih aktivitas harian yg ingin dipelajarinya, dan bahkan belajarpun dilakukan sambil bermain. Itulah sekolah yg sangat di sukai anak dan di cintai oleh para alumnusnya namun sekaligus di benci oleh Dewan Pendidikan Kota

Begitu pula dengan Sosaku Kobayashi di Jepang dengan sekolah Tomoegakuen, sekolah yg berhasil membuat semua dan seluruh siswanya menjadi orang sukses di dalam dan di luar negeri, menjadi Duta Kemanusiaan di PBB, menjadi Ahli Nuklir di AS, Menjadi Ahli Ruang angkasa di Nasa. Sekolah yg selalu mengajak anaknya bermain dan bermain, dan mereka menyebutnya itu adalah belajar.

Oleh karena itu jika anak anda berusia balita hingga SD ijinkanlah ia untuk bermain, karena bermain adalah bagian dari fitrah alami seorang anak. Belajarlah sambil bermain, dan mengerjakan Tugas sambil bermain. Pilihkanlah permainan yg sehat bagi mereka.

Tahukah anda bahwa mayoritas permainan tradisional Indonesia sangat sehat dan mendidik seperti Congklak (strategi, kejujuran, kesabaran, hitungan), “Yeye” Karet lompat atau Karet Putar (Motorik, konsentrasi, prestasi, euritmik), Mobil-mobilan kulit jeruk (kreativitas, inovasi, non toxic, pemanfaatan limbah, Wayang (filosofi, etika moral). dsb.

Michel Jackson adalah contoh Tragis dari seorang anak yang “di renggut” masa kanak-kanaknya oleh sebuah ambisi sukses orang tua. Anak kecil ini telah di paksa dengan kekerasan untuk melalukan latihan serius ala orang dewasa dan tidak di ijinkan untuk menikmati masa kanak-kanaknya secara alami.

Betul memang MJ secara kasat mata kelihatan sebagai orang yg sangat “SUKSES” bergelimang harta dan ketenaran, namun tahukah anda bahwa jiwanya begitu rapuh dan selalu rindu akan masa kanak-kanaknya yg hilang terampas dan tidak pernah bisa kembali lagi. Itulah mengapa dirinya juga sekaligus bergelimang masalah.

Ya...!! masalah yg berawal dari ambisi orang tua dengan alasan agar kelak anaknya menjadi orang sukses.

Mari kita renungkan bersama...

Lirik Lagu ~ Senandung Ukhuwah~ Sigma

Diawal kita bersua
Mencoba untuk saling memahami
Keping-keping dihati
terajut dengan indah
Rasakan persaudaraan kita
Dan masa pun silih berganti
Ukhuwah dan amanah tertunaikan
Berpeluh suka dan duka
kita jalani semua
semata mata harapkan ridhoNYA
Sahabat tibalah masanya
Bersua pasti ada berpisah
Bila nanti kita jauh berpisah
Jadikan rhobitoh pengikatnya
jadikan doa ekspresi rindu
Semoga kita bersua disyurga

Jumat, 12 Oktober 2012

Balasan Nan Indah

Abu Ibrahim bercerita,

Suatu ketika, aku jalan-jalan di padang pasir dan tersesat tidak bisa pulang. Di sana kutemukan sebuah kemah lawas. Kuperhatikan kemah tersebut, dan ternyata di dalamnya ada seorang tua yang duduk di atas tanah dengan sangat tenang.

Ternyata orang ini kedua tangannya buntung, matanya buta, dan sebatang kara tanpa sanak saudara. Kulihat bibirnya komat-kamit mengucapkan beberapa kalimat.

Aku mendekat untuk mendengar ucapannya, dan ternyata ia mengulang-ulang kalimat berikut:
الحَمْدُ لله الَّذِي فَضَّلَنِي عَلَى كَثِيْرٍ مِمَّنْ خَلَقَ تَفْضِيْلاً .. الحَمْدُ للهِ الَّذِي فَضَّلَنِي عَلَى كَثِيْرٍ مِمَّنْ خَلَق تَفْضِيْلاً ..
Segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas banyak manusia… Segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas banyak manusia…

Aku heran mendengar ucapannya, lalu kuperhatikan keadaannya lebih jauh. Ternyata sebagian besar panca inderanya tak berfungsi. Kedua tangannya buntung, matanya buta, dan ia tidak memiliki apa-apa bagi dirinya.
Kuperhatikan kondisinya sambil mencari adakah ia memiliki anak yang mengurusinya? Atau isteri yang menemaninya? Ternyata tak ada seorang pun.

Aku beranjak mendekatinya, dan ia merasakan kehadiranku. Ia lalu bertanya: “Siapa? siapa?”

Assalaamu’alaikum… aku seorang yang tersesat dan mendapatkan kemah ini” jawabku, “Tapi kamu sendiri siapa?” tanyaku.

“Mengapa kau tinggal seorang diri di tempat ini? Di mana isterimu, anakmu, dan kerabatmu? lanjutku.

“Aku seorang yang sakit, semua orang meninggalkanku, dan kebanyakan keluargaku telah meninggal” jawabnya.
“Namun kudengar kau mengulang-ulang perkataan: “Segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas banyak manusia!! Demi Allah, apa kelebihan yang diberikan-Nya kepadamu, sedangkan engkau buta, faqir, buntung kedua tangannya, dan sebatang kara?!?” ucapku.

“Aku akan menceritakannya kepadamu. Tapi aku punya satu permintaan kepadamu, maukah kamu mengabulkannya?” tanyanya.

“Jawab dulu pertanyaanku, baru aku akan mengabulkan permintaanmu” kataku.

“Engkau telah melihat sendiri betapa banyak cobaan Allah atasku, akan tetapi segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas banyak manusia. Bukankah Allah memberiku akal sehat, yang dengannya aku bisa memahami dan berfikir?”
“Betul” jawabku. lalu katanya: “Berapa banyak orang yang gila?”
“Banyak juga” jawabku. “Maka segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas banyak manusia” jawabnya.

“Bukankah Allah memberiku pendengaran, yang dengannya aku bisa mendengar adzan, memahami ucapan, dan mengetahui apa yang terjadi di sekelilingku?” tanyanya.
“Iya benar”, jawabku. “Maka segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas orang banyak tersebut” jawabnya.
“Betapa banyak orang yang tuli tak mendengar?” katanya.
“Banyak juga” jawabku. “Maka segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas orang banyak tersebut”, katanya.

“Bukankah Allah memberiku lisan yang dengannya aku bisa berdzikir dan menjelaskan keinginanku?” tanyanya.
“Iya benar” jawabku. “Lantas berapa banyak orang yang bisu tidak bisa bicara?” tanyanya.
“Wah, banyak itu” jawabku. “Maka segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas orang banyak tsb” jawabnya.

“Bukankah Allah telah menjadikanku seorang muslim yang menyembah-Nya, mengharap pahala dari-Nya, dan bersabar atas musibahku?” tanyanya.
“Iya benar” jawabku. lalu katanya: “Padahal berapa banyak orang yang menyembah berhala, salib, dan sebagainya dan mereka juga sakit? Mereka merugi di dunia dan akhirat!!”
“Banyak sekali”, jawabku. “Maka segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas orang banyak tersebut” katanya.

Pak tua terus menyebut kenikmatan Allah atas dirinya satu-persatu. Dan aku semakin takjub dengan  kekuatan imannya. Ia begitu mantap keyakinannya dan begitu rela terhadap pemberian Allah.

Betapa banyak pesakitan selain beliau, yang musibahnya tidak sampai seperempat dari musibah beliau. Mereka ada yang lumpuh, ada yang kehilangan penglihatan dan pendengaran, ada juga yang kehilangan organ tubuhnya. Tapi bila dibandingkan dengan orang ini, maka mereka tergolong ‘sehat’. Pun demikian, mereka meronta-ronta, mengeluh, dan menangis sejadi-jadinya. Mereka amat tidak sabar dan tipis keimanannya terhadap balasan Allah atas musibah yang menimpa mereka, padahal pahala tersebut demikian besar.

Aku pun menyelami pikiranku makin jauh, hingga akhirnya khayalanku terputus saat pak tua mengatakan:
“Hmmm, bolehkah kusebutkan permintaanku sekarang, maukah kamu mengabulkannya?”
“Iya. apa permintaanmu?” kataku.

Maka ia menundukkan kepalanya sejenak seraya menahan tangis. Ia berkata: “Tidak ada lagi yang tersisa dari keluargaku melainkan seorang bocah berumur 14 tahun. Dia lah yang memberiku makan dan minum, serta mewudhukan aku dan mengurusi segala keperluanku. Sejak tadi malam ia keluar mencari makanan untukku dan belum kembali hingga kini. Aku tak tahu apakah ia masih hidup dan diharapkan kepulangannya, ataukah telah tiada dan kulupakan saja. Dan kamu tahu sendiri keadaanku yang tua renta dan buta, yang tidak bisa mencarinya”.

Maka kutanya ciri-ciri anak tersebut dan ia menyebutkannya, maka aku berjanji akan mencarikan bocah tersebut untuknya. Aku pun meninggalkannya dan tak tahu bagaimana mencari bocah tersebut. Aku tak tahu harus memulai dari arah mana.

Namun tatkala aku berjalan dan bertanya-tanya kepada orang sekitar tentang si bocah, nampaklah olehku dari kejauhan sebuah bukit kecil yang tak jauh letaknya dari kemah si pak tua. Di atas bukit tersebut ada sekawanan burung gagak yang mengerumuni sesuatu. Maka segeralah terbetik di benakku bahwa burung tersebut tidak lah berkerumun kecuali pada bangkai, atau sisa makanan.

Aku pun mendaki bukit tersebut dan mendatangi kawanan gagak tadi hingga mereka berhamburan terbang. Tatkala kudatangi lokasi tersebut, ternyata si bocah telah tewas dengan badan terpotong-potong. Rupanya seekor serigala telah menerkamnya dan memakan sebagian dari tubuhnya, lalu meninggalkan sisanya untuk burung-burung.

Aku lebih sedih memikirkan nasib pak tua dari pada nasib si bocah. Aku pun turun dari bukit, dan melangkahkan kakiku dengan berat menahan kesedihan yang mendalam. Haruskah kutinggalkan pak Tua menghadapi nasibnya sendirian. Ataukah kudatangi dia dan kukabarkan nasib anaknya kepadanya?

Aku berjalan menujuk kemah pak Tua. Aku bingung harus mengatakan apa dan mulai dari mana? Lalu terlintaslah di benakku akan kisah Nabi Ayyub ‘alaihissalaam. Maka kutemui pak Tua itu dan ia masih dalam kondisi yang memprihatinkan seperti saat kutinggalkan. Kuucapkan salam kepadanya, dan pak Tua yang malang ini demikian rindu ingin melihat anaknya, ia mendahuluiku dengan bertanya: “Di mana si bocah?”

Namun kataku: “Jawablah terlebih dahulu… siapakah yang lebih dicintai Allah: engkau atau Ayyub ‘alaihissalaam?”.
“Tentu Ayyub ‘alaihissalaam lebih dicintai Allah” jawabnya.
“Lantas siapakah di antara kalian yang lebih berat ujiannya?” tanyaku kembali.
“Tentu Ayyub…” jawabnya.

“Kalau begitu, berharaplah pahala dari Allah karena aku mendapati anakmu telah tewas di lereng gunung. Ia diterkam oleh serigala dan dikoyak-koyak tubuhnya” jawabku.

Maka pak Tua pun tersedak-sedak seraya berkata: “Laa ilaaha illallaaah…” dan aku berusaha meringankan musibahnya dan menyabarkannya. Namun sedakannya semakin keras hingga aku mulai menalqinkan kalimat syahadat kepadanya, hingga akhirnya ia meninggal dunia. Ia wafat di hadapanku, lalu kututupi jasadnya dengan selimut yang ada di bawahnya. Lalu aku keluar untuk mencari orang yang membantuku mengurus jenazahnya.

Maka kudapati ada tiga orang yang mengendarai unta mereka… nampaknya mereka adalah para musafir, maka kupanggil mereka dan mereka datang menghampiriku. Kukatakan: “Maukah kalian menerima pahala yang Allah giring kepada kalian? Di sini ada seorang muslim yang wafat dan dia tidak punya siapa-siapa yang mengurusinya. Maukah kalian menolongku memandikan, mengafani dan menguburkannya?”
“Iya..” jawab mereka.

Mereka pun masuk ke dalam kemah menghampiri mayat pak Tua untuk memindahkannya. Namun ketika mereka menyingkap wajahnya, mereka saling berteriak: “Abu Qilabah… Abu Qilabah…!!”. Ternyata Abu Qilabah adalah salah seorang ulama mereka, akan tetapi waktu silih berganti dan ia dirundung berbagai musibah hingga menyendiri dari masyarakat dalam sebuah kemah lusuh. Kami pun menunaikan kewajiban kami atasnya dan menguburkannya, kemudian aku kembali bersama mereka ke Madinah.

Malamnya aku bermimpi melihat Abu Qilabah dengan penampilan indah. Ia mengenakan gamis putih dengan badan yang sempurna. Ia berjalan-jalan di tanah yang hijau. Maka aku bertanya kepadanya:
“Hai Abu Qilabah… apa yang menjadikanmu seperti yang kulihat ini?”

Maka jawabnya: “Allah telah memasukkanku ke dalam Jannah, dan dikatakan kepadaku di dalamnya:
( سلام عليكم بما صبرتم فنعم عقبى الدار )
Salam sejahtera atasmu sebagai balasan atas kesabaranmu… maka (inilah Surga) sebaik-baik tempat kembali

[Kisah ini diriwayatkan oleh Al Imam Ibnu Hibban dalam kitabnya: “Ats Tsiqaat” dengan penyesuaian]

Diterjemahkan oleh Ustadz Abu Hudzaifah Al Atsary dari kitab: ‘Aasyiqun fi Ghurfatil ‘amaliyyaat, oleh Syaikh Muh. Al Arify.
Artikel www.muslim.or.id

Kamis, 05 April 2012

Nasehat Utk Sang Putera

Berikut adalah korespondensi melalui email antara Ustadzah Yoyoh Yusroh dgn anaknya, 3 hari sebelum beliau dipanggil oleh Allah SWT tanggal 21 Mei 2011.


Semoga amal ibadah ummi diterima di sisi Allah, dilapangkan kuburnya, diampuni segala dosa-dosanya, dan dimasukkan ke dalam surganya.

From: Yoyoh Yusroh
Date: 2011/5/18
Subject: Nasihat untuk sang putera
To: Aizza Jundana


Nasihat Seorang Arab Kepada Putranya
(Ukht/ Nayifah Uwaimir)

Wahai puteraku …
Agar engkau menjadi seorang raja yang berwibawa di hadapan manusia ..
Janganlah berbicara dalam berbagai urusan ..
Kecuali setelah mengecek kebenaran sumbernya ..
Dan jika seseorang datang membawa berita, cari bukti kebenarannya sebelum dengan berani engkau berbicara ..
Hati-hati dengan isu .. jangan percayai setiap yang dikatakan, jangan pula percaya sesuatu yang setengah engkau lihat ..
Dan jika engkau mendapatkan cobaan berupa seorang musuh .. hadapi dengan berbuat baik kepadanya .. tolak dengan cara yang lebih baik, niscaya permusuhan itu berubah menjadi cinta kasih

Jika engkau hendak mengungkap kejujuran orang, ajaklah ia pergi bersama .. dalam bepergian itu jati diri manusia terungkap .. penampilan lahiriahnya akan luntur dan jatidirinya akan tersingkap! Dan “bepergian itu disebut safar karena berfungsi mengungkap yang tertutup, mengungkap akhlaq dan tabiat”.

Jika engkau diserang banyak orang sementara engkau berada di atas kebenaran .. atau jika engkau diserang dengan kritikan-kritikan buruk .. bergembiralah .. sebab mereka sebenarnya sedang berkata: “engkau orang yang sukses dan berpengaruh”, sebab,
· anjing yang mati tidak akan ditendang,
· dan tidak dilempar kecuali pohon yang berbuah

Wahai puteraku ..
Jika engkau hendak mengkritik, biasakan untuk melihat dengan mata tawon lebah .. dan jangan memandang orang lain dengan mata lalat, sebab engkau akan terjatuh kepada perkara yang busuk!

Tidurlah lebih awal wahai puteraku agar bisa bangun lebih awal .. sebab keberkahan ada di pagi hari, dan saya khawatir kehilangan kesempatan mendapatkan rizki Allah yang Maha Penyayang disebabkan engkau begadang di malam hari, sehingga tidak bisa bangun pagi!

Akan aku ceritakan kepadaku kisah seekor kambing dan serigala, supaya engkau aman dari orang yang berbuat makar ..
Dan saat seseorang memberikan tsiqah-nya kepadamu, jangan sampai engkau mengkhianatinya!
Akan aku ajak engkau ke sarang singa .. akan aku ajarkan bahwa singa itu tidak menjadi raja hutan dikarenakan aumannya!!
Akan tetapi, karena ia berjiwa tinggi! Tidak mau memakan hasil buruan binatang lain, betapapun ia lapar .. dan perutnya melilit-lilit .. jangan mencuri jerih payah orang lain .. sebab engkau menjadi keji!

Akan aku ajak engkau menemui bunglon .. agar engkau menyaksikan sendiri tipu dayanya! Bunglon merubah warna dirinya sesuai dengan tempat ia berada .. agar engkau mengetahui bahwa yang seperti bunglon itu banyak .. dan berulang-ulang! Dan bahwasanya ada orang-orang munafik .. banyak pula manusia yang berganti-ganti pakaian .. dan berlindung dibalik alasan “ingin berbuat baik”.

Wahai puteraku ..
Biasakan engkau bersyukur .. kepada Allah! Cukuplah menjadi alasan untuk bersyukur kepada-Nya bahwa engkau dapat berjalan, mendengar dan melihat!
Bersyukurlah kepada Allah, dan syukuri pula manusia .. sebab Allah SWT akan menambah orang-orang yang bersyukur
Dan manusia senang saat mendapati seseorang yang diberi sesuatu lalu orang itu menghargainya!

Wahai puteraku .. ketahuilah bahwa sifat utama yang paling agung dalam kehidupan ini adalah sifat jujur!
Dan bahwasanya kebohongan, meskipun tampak memberi keselamatan .. namun jujur lebih berakhlaq bagimu! Dan bagi orang sepertimu!

Wahai puteraku …
Persiapkan alternatif untuk segala urusan .. agar engkau tidak membuka jalan kehinaan!
Manfaatkan segala peluang .. sebab peluang yang datang sekarang .. bisa jadi tidak akan berulang!!

Jangan berkeluh kesah .. aku harap engkau optimis .. siap menghadapi kehidupan ..
Jauhilah orang-orang yang putus asa dan pesimis, lari dari mereka! Dan jangan sampai engkau duduk dengan seseorang yang selalu memandang sial kepada segala hal!!

Jangan bergembira saat melihat orang lain terkena musibah .. jangan pula menghina orang karena postur atau penampilannya ..
Sebab dia tidak menciptakan dirinya .. dan saat engkau menghina orang lain, pada hakekatnya engkau menghina ciptaan dari Dzat yang Maha Mencipta dan Membuat bentuk rupa

Jangan membuka aib orang, sebab Allah akan membuka aibmu di rumahmu .. sebab Allah-lah Dzat yang menutupi .. dan mencintai orang yang menutupi!
Jangan menzhalimi siapa pun .. dan jika engkau hendak menzhalimi dan engkau merasa mampu menzhalimi, ingatlah bahwa Allah SWT lebih mampu!

Jika engkau merasa hatimu mengeras, usaplah kepala anak yatim .. engkau akan terheran-heran .. bagaimana usapan itu dapat menghilangkan rasa keras hati dari hatimu, seakan hatimu menjadi pecah dan melunak!

Jangan mendebat .. dalam perdebatan .. kedua pihak merugi.
Kalau kita yang kalah, kita merugi telah kehilangan kebesaran kita, dan jika menang, kita juga merugi, telah kehilangan orang lain yang menjadi lawan debat kita .. semua kita kalah .. baik yang merasa menang .. dan yang merasa belum menang!

Jangan monopoli pendapat .. yang bagus adalah engkau mempengaruhi dan dipengaruhi!
Hanya saja, jangan larut dalam pendapat banyak orang .. dan jika engkau merasa bahwa pendapatmu benar .. tegarlah dan jangan terpengaruh!

Wahai puteraku ..
Engkau dapat merubah keyakinan orang .. dan menguasai hati mereka tanpa engkau sadari! Bukan dengan sihir, bukan pula dengan jampi .. namun, dengan senyumanmu .. dan kosa katamu yang lembut .. dengan keduanya, engkau dapat menyihir!!
Oleh karena itu, tersenyumlah .. maha suci Allah yang telah menjadikan senyuman sebagai ibadah dalam agama kita, dan kita mendapatkan pahala darinya!!

Di Cina .. jika engkau tidak murah senyum, mereka tidak akan berikan lisensi kepadamu untuk membuka kedai ..
Jika engkau tidak menemukan orang yang tersenyum kepadamu, tersenyumlah engkau kepadanya!
Jika bibirmu terbuka karena senyuman .. dengan cepat .. terbuka pula hati untuk mengekspresikan isinya

Jika orang meragukanmu, bela dirimu .. jelaskan .. dan beri keterangan pembenarannya!
Jangan suka nimbrung dan mengenduskan hidungmu dalam segala urusan .. jangan pula ikut-ikutan, berposisi bersama banyak orang saat mereka bersikap!!
Wahai puteraku .. jauhkan dirimu dari hal ini .. aku sangat tidak suka kalau melihatmu seperti ini!!

Jangan bersedih wahai puteraku terhadap apa yang terjadi dalam kehidupan! Sebab kita tidak diciptakan kecuali untuk diuji dan diberi cobaan .. sehingga Allah melihat kita .. adakah kita bersabar?
Karena itu .. santai saja .. jangan keruh hati! Yakinlah bahwa jalan keluar dekat ..
“jika mendung semakin hitam, pertanda, sebentar lagi hujan”!!

Jangan meratapi masa lalu, cukuplah bahwa ia telah berlalu .. sia-sia kalau kita memegang gergaji kayu, lalu menggergaji!!
Tataplah hari esok .. persiapkan diri .. dan singsingkan lengan baju untuk menghadapinya!!
Jadilah orang yang mulia .. berbanggalah dengan dirimu!
Sebagaimana engkau melihat dirimu, begitulah orang lain akan melihatmu ..
Jangan sekali-kali meremehkan dirimu!! Sebab engkau menjadi besar saat engkau ingin besar .. hanya engkau saja yang memutuskan ia menjadi kecil!


Yoyoh Yusroh
Komisi I DPR RI
Sent from my iPad
"Ya Rabb..

Aku sedang memikirkan posisiku kelak di akhirat, mungkinkah aku berdampingan dengan penghulu para wanita, KHODIJAH AL KUBRO yg berjuang dengan harta dan jiwanya?

Atau dengan HAFSAH BT ABI BAKR yang dibela oleh Alloh saat akan dicerai karena showwamah dan qowwamahnya?

Atau dengan AISYAH yang telah hafal 3500an hadist, sedang aku...ehm..500 juga belum

Atau dengan UMMU SULAIM yang shobiroh...

Atau dengan ASMA yang mengurus kendaraan suaminya dan mencela putranya saat istirahat dari jihad...

Atau dengan siapa ya?..

Ya Alloh...tolong beri kekuatan untuk mengejar amaliah mereka...sehingga aku laik bertemu mereka bahkan bisa berbincang dengan mereka ditaman firdausMu....

Minggu, 01 April 2012

Mereka Berdiri, dalam Shaf-Shaf yang Rapi

Tangkainya sederhana, daunnya pun biasa saja. Tumbuhnya pun dilumpur kotor nan basah, bersahabat dengan rerumputan. Tapi mereka hidup rukun, saling menguatkan dan berpegangan tangan, hingga mereka beranjak dewasa - berbunga menebarkan serbuk sari kebahagiaan diusia mudanya - mempersiapkan dirinya hingga matang, seiring berisi semakin merunduk, lalu menguning mengukirkan senyum diwajah petani yang setia menengoknya disetiap pagi.
 Usianya tidak lama, tapi sungguh ia telah dewasa.
Cerita hidupnya singkat, tapi berkesan dan syarat manfaat.
Tak peduli bagi siapa saja, ikan-ikan yang bermain sambil berteduh atau serangga pencuri dan ulat-ulat nakal. Dari sosoknya banyak lukisan keteladanan untuk kita, Manusia.

Akarnya tidaklah kokoh..
Tapi cukup menunjang batangnya yang sederhana.
Karena hidupnya memang tidak lama, tugas utamanya hanya memberi manfaat kepada Manusia dan mahluk-Nya yang lain. Selebihnya mereka berstasbih memuji-Nya, lalu khusyuk mempersiapkan benih-benih berkualitas untuk keturunannya, agar kelak terlahir tunas baru berkualitas pula sebagai warisannya..

Mereka memiliki intuisi dan berdisiplin tinggi, hingga berpredikat pencetak benih-benih unggul.
Mereka sibuk mempersiapkan buahnya, dikeseluruhan hidupnya pun mereka memberi ketenangan.. kepada petani yang menatapnya. Ketika ia mulai menguning, petani bahagia memandanginya, dari surau kecilnya selepas ashar atau di antara embun-embun gemericik di subuh harinya.

Akarnya tidak kokoh, tapi kuat mencengkram!
Mereka tidak ingin terpisah dari kelompoknya, mereka ingin tubuhnya yang rapuh tetap teguh!

Mereka berdiri dalam shaf-shaf yang rapi..
Merekapun bergabung dengan kelompok-kelompok lain menjaga silaturahim.
Lihatlah!

Lihatlah padi yang bisa berdiri kokoh di atas lumpur basah!
Mereka kuat karena saling berpegangan bersama saudaranya, hidup rukun, saling melengkapi dan menguatkan.

Hingga saatnya angin berhembus..
Mereka berpelukan, mereka berserikat dalam satu kesatuan..
Sungguh mereka kuat bukan karena sepohon nan kokoh, batangnya pun rapuh.
Mereka hanya berdiri bersamaan, tidak menghiraukan lagi perbedaan kualitas atau jenis.

Lihat saja satu padi yang berdiri sendiri, atau terpisah dari jemaahnya..
Ia lemah, ketika buahnya mulai matang, tubuhnya patah dan tumbang, ia terjatuh, ia butuh sandaran..

Begitupun Manusia yang butuh seseorang dalam hidupnya.
Kita butuh saudara untuk sekedar bersandar, meneguhkan jiwa yang rapuh, melengkapi satu sama lain, menjalin silaturahim, mendekapkan ukhuwwah dan berserikat agar menjadi kuat.

Begitulah padi-padi yang telah dewasa, semakin berisi semakin menunduk.
Adalah cerminan tak terbantahkan bagi manusia yang berakal. Semakin berilmu seharusnya semakin menunduk. Semakin banyak yang ia ketahui, semakin ia sadar bahwa banyak hal yang belum ia ketahui di Dunia ini.

Hingga ia menunduk dengan sempurna.
Lihatlah lagi, sang padi tak pernah riya atas kebaikannya..
Bahkan ia tetap diam. Tidak sekalipun gaduh  atau mengaduh saat dipangkas pak petani, daun-daunnya hanya gemerisik sebagai isyarat tasbihnya..

Ia tidak sombong..
Padalah mereka adalah superstar hebat yang dikenal diseluruh Dunia.

Lihatlah ketawadhuan mereka,
Mereka berzuhud dan mempersiapkan dirinya.
Merekapun tahu, tak lama dunia itu..
Hingga kesemua dari mereka diam dan menunduk dimasa kematangannya.

Adapun kerabat padi yang congkak berdiri, dan enggan menunduk..
Dapat dipastikan ia tidak berisi, seperti manusia yang merasa pandai dan benar sendiri, padahal laksana padi yang gagal. Hanya padi yang tak berisi, atau mungkin mati.

Laksana hati manusia yang mati sebelum kematian!
Semoga itu bukan padi yang mati, semoga itu hanyalah padi muda yang belum berisi.

Jikapun itu benar-benar tanda kematian hati..
Semoga itu bukan saudara kita, atau kita sendiri.
Menunduklah..

Merunduk seperti padi.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Hindarilah oleh kamu sekalian berburuk sangka karena buruk sangka adalah ucapan yang paling dusta. Janganlah kamu sekalian saling memata-matai yang lain, janganlah saling mencari-cari aib yang lain, janganlah kamu saling bersaing (kemegahan dunia), janganlah kamu saling mendengki dan janganlah kamu saling membenci dan janganlah kamu saling bermusuhan tetapi jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara." (Shahih Muslim No.4646, Riwayat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)

وَلا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلا تَمْشِ فِي الأرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

"Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri." (QS. Lukman : 18)

Subhanallah..
Inilah sebagian kecil Hikmah-HikmahNya yang bertebaran..
Hanya dari satu jenis rumput liar yang buahnya kita makan setiap hari.
Hikmah dari Penciptaan Padi yang habitatnya telah Allah hamparkan diseluruh permukaan bumi ini. 
 Sungguh di semesta yang luas ini terdapat Hikmah-HikmahNya..
Tak ada sesuatupun ciptaan-Nya yang sia-sia. 
Kesemuanya adalah Ayat-AyatNya yang tersirat..

Saudaraku, mari berjalan berdampingan
Menuju keabadian..


Al faqir Ilallah
-NAI-

Bismillah, Full day with Allah ^.^

Inna sholati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi robbil ‘aalamiin" sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan seluruh alam Itulah doa yang kita baca dalam doa iftitah sholat kita, sebagai pernyataan kita menghamba kepada Allah. Dalam kehidupan kita sebagai muslim, kita diharapkan totalitas beribadah dalam keseharian....bahkan full day !! Ibadah itu tidak hanya sholat, zakat, mengaji diujung masjid, mengaji berkelompok, berwudhu, puasa, haji. Tapi lebih dari itu, seharusnya seluruh hidup kita adalah ibadah, bekerja kita ibadah, dengan berkeluarga kita ibadah, dengan bersosialisasi kita ibadah, dalam berkendara pribadi atau pun umum menuju kantor kita ibadah, bahkan tidur kita pun ibadah. Lalu bagaimanakah agar setiap kegiatan kita bisa bernilai ibadah? Niatkan untuk Allah, dan Awali dengan Basmalah (Bismillahirrahmanirrahiim) Dengan kita berhati-hati dan bekerja dengan baik dalam setiap aktifitas kita, dan memulai dari hal yg paling kecil...setiap "pekerjaan baik" kita dengan membaca "bismillah". kenapa dikatakan "pekerjaan baik"? karena secara otomatis kita akan malu mengucap bismillah jika akan mengerjakan pekerjaan buruk . Seperti yang telah dituturkan Rasulullah "Sesungguhnya diterimanya amal perbuatan itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan..." (HR Bukhari dan Muslim) Dan dalam Hadits lainnya, Rasulullah saw bersabda, “Setiap pekerjaan yang baik, jika tidak dimulai dengan “Bismillah” (menyebut nama Allah) maka (pekerjaan tersebut) akan terputus (dari keberkahan Allah)” Syahid Murtaza Mutahhari dalam bukunya “Understanding the Noble Qur’an” menuliskan bahwa alasan mengapa kita memulai dengan nama Allah adalah “untuk memberikan sebuah sentuhan sakral bagi kegiatan tersebut dan menjadikannya diberkahi. Ketika seorang manusia yang menganggap Allah sebagai sebuah zat Maha Suci dan sumber dari segala keagungan, memulai sebuah tindakan dengan nama-Nya, maka itu berarti bahwa hanya karena kebesaran dan izin-Nya jualah sehingga tindakan tersebut dapat terlaksana dan diberkahi. Sehingga boleh jadi...waktu sama, isi sama, hasil beda! dua orang ibu yang sama-sama memasak, yang satu hanya dapat masakan enak, sedangkan temannya selain menghasilkan masakan yang lezat, dia dapat pahala karena diniatkan karena Allah untuk membahagiakan suami dan keluarga. Dua orang yang sama-sama berolahraga, yang satu hanya dapat lelah, sedangkan temannya selain lelah dia dapat pahala karena diawali dengan bismillah dan diniatkan untuk mejaga kesehatan agar dapat beribadah dengan baik. Dua orang pedagang yang sama-sama menjual produknya, yang satu dapat untung, uang dan harta lainnya, sedangkan temannya, dengan niat karena Allah, selain mendapatkan untung, dia mendapat pahala karena berlaku jujur, menyenangkan orang lain, membantu orang lain, dan juga mendapatkan pahala karena mencari nafkah untuk keluarganya Ada saatnya masakan akan habis, lelah sudah mereda, tapi dengan bismillah, kebaikandari apa yang kita lakukan telah tercatat kekal di hadapan Allah. kalau ditengah-tengah pekerjaan kita lupa membacanya, kita bisa membaca : "Bismillahi Awwalahu wa Aakhirahu".... Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Apabila salah seorang diantara kalian hendak makan, maka ucapkanlah: ‘Bismilah.’ Dan jika ia lupa untuk mengucapkan Bismillah di awal makan, maka hendaklah ia mengucapkan ‘Bismillahi Awwalahu wa Aakhirahu (dengan menyebut nama Allah di awal dan diakhirnya).’” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi) Dengan membaca bismillah, kita bertindak, berkata-kata, bekerja "atas nama Allah". Seperti halnya seorang komandan/bos, memberi anda perintah. Maka Anda akan berbuat sesuai perintah/arahan komandan Anda, karena Anda bertugas atau bekerja atas nama dia. Apalagi untuk Allah yang setiap sholat kita menyatakan bahwa kita adalah hambanya, dan yang perintah dan larangan-Nya jelas termaktub dalam Al-Quranul karim, maka idealnya seorang muslim bertindak, berperilaku seperti yg dianjurkan, dan beraktivitas "atas nama Allah". Berlindunglah kepada Allah dengan Bismillah Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa ketika syaitan diperintahkan keluar dari surga, dia menanyakan tiga pertanyaan: Dimana kami akan tinggal? Dimana kami akan makan? Dimana kami akan tidur? Lalu dikatakan kepadanya bahwa kamu akan tinggal bersama orang-orang yang tidak mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim sebelum memasuki rumahnya. Kamu akan makan bersama orang-orang yang tidak mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim sebelum makan. Dan kamu akan tidur bersama orang-orang yang tidak mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim sebelum tidur. Dari Jabir ra., ia berkata: Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: " Apabila seseorang masuk ke rumahnya lalu di berdzikir kepada Allah Ta'ala sewaktu ia masuk, dan sewaktu makan, maka setan berkata (kepada temannya) : "Kamu tidak bisa ikut masuk dan kamu tidak bisa ikut makan. "Dan apabila seseorang tidak berdzikir kepada Allah Ta'ala sewaktu masuk rumahnya, maka setan berkata (kepada temannya) : "Kamu dapat mengikutinya masuk". Dan apabila seseorang tidak berdzikir kepada Allah Ta'ala sewaktu makan, maka setan berkata (kepada temannya): "Kamu bisa ikut makan dan ikut masuk." (HR Muslim) Kita perlu jujur dan bertanya pada diri kita masing-masing, Mengapa anak-anak kadang sulit kita kendalikan? Jangan-jangan, kita tidak pernah berdoa dan membaca basmalah saat berhubungan dengan pasangan kita. Jadilah anak-anak kita jauh dari sinar dan cahaya ilahi. “Dengan menyebut nama Allah. Ya Allah, jauhkanlah kami dari syaitan dan jauhkanlah syaitan dari anak yang Engkau karuniakan kepada kami.” (HR.Bukhari dan Muslim). Dahsyatnya Bismillah Kekuatan dan keutamaan basmalah telah banyak diceritakan dalam berbagai kisah. Dengan basmalah, seseorang bisa meruqyah (menjampi) orang yang terkena gangguan jin. “Dengan menyebut nama Allah, aku me-ruqyah-mu, dari segala sesuatu yang menyakitimu, dan dari keburukan setiap jiwa atau mata yang dengki. Allahlah yang menyembuhkanmu, dengan nama Allah aku menjampimu.” (HR. Muslim). Dengan basmalah Nabi Sulaiman berhasil mendakwahi Ratu Bilqis. “Sesungguhnya surat itu, dari Sulaiman dan Sesungguhnya (isi)nya: "Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Naml (27) : 30). Dengan basmalah pula, Rasulullah SAW mengirim surat kepada Raja Heraclius. “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Muhammd Rasulullah, kepada Heraclius Kaisar Romawi. Semoga keselamatan telimpahkan bagi siapa saja yang mengikuti petunjuk. Amma ba’dahu, masuk islamlah, niscaya engkau akan selamat, dan Allah akan memberikan pahala untukmu dua kali.” (HR. Bukhari, Ahmad dan Abu Dawud). Nabi Nuh berhasil naik perahu untuk menyelamatkan kaumnya juga dengan basmalah. Dan Nuh berkata: "Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya." Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Hud (11) : 41) Untuk menaklukkan Sungai Nil yang tak mau mengalirkan airnya, Umar bin Khathab berkirim surat kepada sungai Nil dengan menggunakan basmalah. Bismillahirrahmanirrahim Dari Umar Amirul Mukminin Kepada Sungai Nil Apabila engkau mengalir karena kemauanmu sendiri, tak usahlah engkau mengalir. Namun, apabila engkau mengalir karena Allah, aku mohon kepada Allah untuk mengalirkanmu. Wassalam. Mulai sekarang? Begitu dahsyatnya makna bismillah, sehingga setelah asma Allah itu kita sebut, maka niscaya Allah SWT akan berikan ketentraman dan ketenangan pada diri kita. Bagaimana dengan sahabat-sahabat, apakah sahabat-sahabat mengucapkan bismillah saat akan online, saat akan membaca email, saat akan membuka blog, dan saat akan menulis postingan? Bismillahirrahmanirrahiim, Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, kita awali setiap aktifitas kita dengan memohon keberkahan dunia dan akherat di dalamnya. Sumber: Al Quran Hadist Riyadhus Sholihin Tegakkan "bismiLLAH" semua akan mudah; Hidayatullah.com

Sabtu, 11 Februari 2012

^ Dimana Lagi Kutemui Perempuan Sepertimu? ^

Di mana lagi aku temui perempuan semacammu? Tilawahmu tidaklah terlalu merdu, keimananmu pun seolah bersandar kepadaku. Tapi, di mana lagi aku temui perempuan seikhlasmu? Wajahmu tak cantik melulu, masakanmu pun tidak lezat selalu. Tapi, katakan kepadaku, di mana lagi aku jumpai perempuan seperkasamu? Kau bahkan tidak biasa berbicara mewakili dirimu sendiri, dan acapkali menyampaikan isi hatimu dalam bahasa yang tak berkata-kata. Demi Tuhan, tapi aku benar-benar tidak tahu, ke mana lagi aku cari perempuan seinspiratif dirimu? Ingatkah lima tahun lalu aku hanya memberimu selingkar cincin 3 gram yang engkau pilih sendirian? Tidak ada yang spektakuler pada awal penyatuan kita dulu. Hanya itu. Karena aku memang tidak punya apa-apa. Ah, bagaimana bisa aku menemukan perempuan lain sepertimu? Aku tidak akan melupakan amplop-amplop lusuhmu, menyimpan lembaran ribuan yang kausiapkan untuk belanja satu bulan. Dua ribu per hari. Sudah kauhitung dengan cermat. Berapa rupiah untuk minyak tanah, tempe, cabe, dan sawi. Ingatkah, Sayang? Dulu kita begitu akrab dengan racikan menu itu. Setiap hari. Sekarang aku mulai merasa, itulah masa paling indah sepanjang pernikahan kita. Lepas maghrib aku pulang, berkeringat sebadan, dan kaumenyambutku dengan tenang. Segelas air putih, makan malam: tempe, sambal, dan lalap sawi. Kita bahagia. Sangat bahagia….. Aku bercerita, seharian ada apa di tempat kerja. Kau memijiti punggungku dengan jemarimu yang lemah tapi digdaya. Kau lalu bercerita tentang tingkah anak-anak tetangga… Kala itu kita begitu menginginkan hadirnya buah cinta yang namanya pun telah kusiapkan sejak bertahun-tahun sebelumnya. Kita tidak pernah berhenti berharap, kan, Honey? Dua kali engkau menahan tangismu di ruang dokter saat kandunganmu mesti digugurkan. Aku menyiapkan dadaku untuk kepalamu, lalu membisikkan kata-kata sebisaku, “tidak apa-apa. Nanti kita coba lagi. Tidak apa-apa.” Di atas angkot, sepulang dari dokter, kita sama-sama menangis, tanpa isak, dan menatap arah yang berlawanan. Tapi, masih saja kukatakan kepadamu, “Tidak apa-apa, Sayang. Tidak apa-apa. Kita masihmuda.” Engkau tahu betapa lukanya aku. Namun, aku sangat tahu, lukamu berkali lipat lebih menganga dibanding yang kupunya. Engkau selalu bisa segera tersenyum setelah merasakan sakit yang mengaduk perutmu, saat calon bayi kita dikeluarkan. Kaumemintaku menguburkannya di depan rumah kita yang sepetak. “Yang dalam, Kang. Biar nggak digali anjing.” Jadi, ke mana aku bisa mencari perempuan sekuat dirimu? Kau pasti tak pernah tahu, ketika suatu petang, sewaktu aku masih ditempat kerja, hampir merembes air mataku ketika kauberitahu. “Kang, Mimi ke Ujung Berung, jual cincin.” Cincin yang mana lagi? Engkau sedang membicarakan cincin kawinmu, Sayang. Yang 3 gram itu. Aku membayangkan bagaimana kau beradu tawar menawar dengan pembeli emas pinggir jalan. Bukankah seharusnya aku masih mampu memberimu uang untuk makan kita beberapa hari ke depan? Tidak harus engkau yang ke luar rumah, melawan gemetar badanmu, bertemu dengan orang-orang asing. Terutama … untuk menjual cincinmu? Cincin yang seharusnya menjadi monumen cinta kita. Tapi kausanggup melakukannya. Dan, ketika kupulang, dengan keringat sebadan, engkau menyambutku dengan tenang. Malam itu, tidak cuma tempe, cabe, dan lalap sawi yang kita makan. Kaupulang membawa uang. Duh, Gusti, jadi bagaimana aku sanggup berpikir untuk mencari perempuan lain seperti dirinya? Ketika kondisi kita membaik, bukankah engkau tidak pernah meminta macam-macam, Cinta? Engkau tetap sesederhana dulu. Kaubelanja dengan penuh perhitungan. Kauminta perhatianku sedikit saja. Kau kerjakan semua yang seharusnya dikerjakan beberapa orang. Kaucintai aku sampai ke lapisan tulang. Sampai membran tertipis pada hatimu. Ingatkah, Sayang? Aku pernah menghadiahimu baju, yang setelah itu kautak mau lagi membeli pakaian selama bertahun-tahun kemudian. Baju itu seharga kambing, katamu. Kautak mau buang-buang uang. Bukankah telah kubebaskan kau mengelola uang kita? Kautetap seperti dulu. Membuat prioritas-prioritas yang kadang membuatku kesal. Kau lebih suka mengisi celengan ayam jagomu daripada membeli sedikit kebutuhanmu sendiri. Dunia, kupikir aku tak akan pernah menemui lagi perempuan seperti dia. Sepekan lalu, Sayang, sementara di rahimmu anak kita telah sempurna, kaumasih memikirkan aku. Menanyai bagaimana puasaku, bukaku, sahurku? Siapa yang mencuci baju-bajuku, menyetrika pakaianku. Bukankah sudah kupersilakan engkau menikmati kehamilanmu dan menyiapkan diri untuk perjuanganmu melahirkan anak kita? “Kang, maaf, ya, dah bikin khawatir, gak boleh libur juga gak papa. Tadi tiba-tiba gak enak perasaan. Tau nih, mungkin krn bentar lagi.” Bunyi smsmu saat kudalam perjalanan menuju Jakarta. Panggilan tugas. Dan, engkau sangat tahu, bagiku pekerjaan bukan neraka, tetapi komitmen. Seberat apa pun, sepepat apa pun, pekerjaan adalah sebuah proses menyelesaikan apa yang pernah aku mulai. Tidak boleh mengeluh, tidak boleh menjadikannya kambing hitam. Membaca lagi SMSmu membuatku semakin tebal bertanya, ke mana lagi kucari seorang pecinta semacammu. Kaumencintaiku dengan memberiku sayap. Sayap yang mampu membawaku terbang bebas, namun selalu memberiku alamat pulang kepadamu. Selalu. Lalu SMS mu itu kemudian menjadi firasat. Sebab, segera menyusul teleponmu, pecah ketubanmu. Aku harus segera menemuimu. Secepat-cepatnya meninggalkan Bandung menuju Cirebon untuk mendampingimu. “Terus kamu kenapa masih di sini? Pulang saja,” kata atasanku ketika itu. Engkau tahu, Sayang, aku masih berada di dalam meeting ketika teleponmu mengabarkan semakin mendekatnya detik-detik lahirnya “tentara kecil” kita. Ketika itu aku masih berpikir, boleh kuselesaikan meeting itu dulu, agar tidak ada beban yang belum terselesaikan. Tapi, tidak. Atasanku bilang, tidak. “Pulang saja,” katanya. Baru kubetul-betul sadar, memang aku segera harus pulang. Menemuimu. Menemanimu. Lalu, kusalami mereka yang ada di ruang rapat itu satu-satu. Tidak ada yang tidak memberikan dorongan, kekuatan, dukungan. Lima jam kemudian aku ada di sisihmu. Seranjang sempit rumah sakit dengan infuse di pergelangan tangan kirimu. Kau mulai merasakan mulas, semakin lama semakin menggila. Semalaman engkau tidak tidur. Begitu juga aku. Berpikir untuk memejamkan mata pun tak bisa. Aku tatap baik-baik ekspresi sakitmu, detik per detik. Semalaman, hingga lepas subuh, ketika engkau bilang tak tahan lagi. Lalu, aku berlari ke ruang perawat. “Istri saya akan melahirkan,” kataku yakin. Bergerak cepat waktu kemudian. Engkau dibawa ke ruang persalinan, dan aku menolak untuk meninggalkanmu. “Dulu ada suami yang ngotot menemani istrinya melahirkan, lihat darah, tahu-tahu jatuh pingsan,” kata dokter yang membantu persalinanmu. Aku tersenyum, yang pasti laki-laki itu bukan aku. Sebab aku merasa berada di luar ruang persalinan itu akan jauh lebih menyiksa. Aku ingin tetap di sisihmu. Mengalirkan energi lewat genggaman tanganku, juga tatapan mataku. Terjadilah. Satu jam. Engkau mengerahkan semua tenaga yang engkau tabung selama bertahun-tahun. Keringatmu seperti guyuran air. Membuat mengilap seluruh kulitmu. Terutama wajahmu. Menjerit kadangkala. Tanganmu mencengkeram genggamanku dengan kekuatan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Kekuatan yang lahir oleh kesakitan. Engkau sangat kesakitan, sementara “tentara kecil” kita tak pula mau beranjak. “Banyak kasus bayi sungsang masih bisa lahir normal, kaki duluan. Tapi anak ini kakinya melintang,” kata dokter. Aku berusaha tenang.Sebab kegaduhan hatik u tidak bisa membantu apa-apa. Kusaksikan lagi wajah berpeluhmu, Sayang. Kurekam baik-baik, seperti fungsi kamera terbaik di dunia. Kusimpan lalu di benakku yang paling tersembunyi. Sejak itu kuniatkan, rekaman itu akan kuputar jika suatu ketika kuberniat mencurangimu, menyakitimu, melukaimu, mengecewakanmu. Aku akan mengingat wajah itu. Wajah yang hampir kehilangan jiwa hanya karena ingin membuatku bahagia. “Sudah tidak kuat, Kang. Nggak ada tenaga,” bisikmu persis di telingaku. Karena sengaja kulekatkan telingaku ke bibirmu. Aku tahu, ini urusan nyawa. Lalu kumerekam bisikanmu itu. Aku berjanji pada hati, rekaman suaramu itu akan kuputar setiap lahir niatku untuk meminggirkanmu, mengecilkan cintamu, menafikkan betapa engkau permata bagi hidupku. Aku mengangguk kepada dokter ketika ia meminta kesanggupanku agar engkau dioperasi. Tidak ada jalan lain. Aku membisikimu lagi, persis ditelingamu, “Mimi kuat ya. Siap, ya. Ingat, ini yang kita tunggu selama 5 tahun. Hayu semangat!” Engkau mengangguk dengan binar mata yang hampir tak bercahaya. Aku tahu, ini urusan nyawa. Tapi mana boleh aku memukuli dinding, menangis sekencang angin, lalu mendongak ke Tuhan, “Kenapa saya, Tuhan! Kenapa kami?” Sebab, Tuhan akan menjawab, “Kenapa bukan kamu? Kenapa bukan kalian?” Aku mencoba tersenyum lagi. Mengangguk lagi kepadamu. “Semua akan baik-baik saja.” Maka menunggumu di depan ruang operasi adalah saat di mana doa menjadi berjejal dan bernilai terkhusyuk sepanjang hidup. Seandainya aku boleh mendampingi operasimu…. Tapi tidak boleh. Aku menunggumu sembari berkomat-kamit sebisaku. Aku sendirian. Berusaha tersenyum, tetapi sendirian. Tidak … tidak terlalu sendirian. Ada seseorang mengirimiku pesan pendek dan mengatakan kepadaku, “Aku ada di situ, menemanimu.” Kalimat senada kukatakan kepadanya suatu kali, ketika dia mengalami kondisi yang memberatkan. “Apa kepala bebalmu tidak merasa? Aku ada di situ! Menemanimu!” Lalu, tangis itu! Rasanya seperti ada yang mencabut nyawaku dengan carater indah sedunia. Tangis itu! Tentara kecil kita. Menjadi gila rasanya ketika menunggu namaku disebut. Berlari ke lorong rumah sakit ketika tubuh mungil itu disorongkan kepadaku. “Ini anak Bapak…” Tahukah engkau, Sayang. Ini bayi yang baru keluar dari rahimmu, dan aku harus menggendongnya. Bukankah dia terlau rapuh untuk tangan-tangan berdosaku? Dokter memberiku dukungan. Dia tersenyum dengan cara yang sangat senior. “Selamat, ya. Bayinya laki-laki.” Sendirian, berusaha tenang. Lalu kuterima bayi dalam bedongan itu. Ya, Allah….bagaimana membahasakan sebuah perasaan yang tidak terjemahkan oleh semua kata yang ada di dunia??? Makhluk itu terpejam tenang semacam malaikat; tak berdosa. Sembari menahan sesak di dadaku, tak ingin menyakitinya, lalu kudengungkan azan sebisaku. Sebisaku. Sebab, terakhir kukumandangkan azan, belasan tahun lalu, di sebuah surau di pelosok Gunung Kidul. Azan yang tertukar redaksinya dengan Iqomat. Mendanau mataku. Begini rasanya menjadi bapak? Rasanya seperti tertimpa surga. Aku tak pedul lagi seperti apa itu surga. Rasanya sudah tidak perlu apa-apa lagi untuk bahagia. Momentum itu berumur sekitar lima menit. Tentara kecil kita diminta oleh perawat untuk dibersihkan. Ingatanku kembali kepadamu. Bagaimana denganmu, Sayang? Kukirimkan kabar tentang tentara kecil kita kepada seseorang yang semalaman menemani kita bergadang dari kejauhan. Dia seorang sahabat, guru, inspirator, pencari, dan saudara kembarku. “He is so cute,” kata SMS ku kepadanya. Sesuatu yang membuat laki-laki di seberang lautan itu menangis dan mengutuk dirinya untuk menyayangi bayi kita seperti dia merindukan dirinya sendiri. Sebuah kutukan penuh cinta. Setengah jam kemudian, berkumpul di ruangan itu. Kamar perawatan kelas dua yang kita jadikan kapal pecah oleh barang-barang kita. Engkau, aku, dan tentara kecil kita. Seorang lagi; keponakan yang sangat membantuku di saat-saat sulit itu. Seorang mahasiswi yang tentu juga tidak tahu banyak bagaimana mengurusi bayi. Tapi dia sungguh memberiku tangannya dan ketelatenannya untuk mengurusi bayi kita. Engkau butuh 24 jam untuk mulai berbicara normal, setelah sebelumnya seperti mumi. Seluruh tubuhmu diam, kecuali gerakan mata dan sedikit getaran di bibir. Aku memandangimu, merekam wajahmu, lalu berjanji pada hati, 50 tahun lagi, engkau tidak akan tergantikan oleh siapa pun di dunia ini. Lima hari, Sayang. Lima hari empat malam kita menikmati bulan madu kita sebenar-benarnya. Aku begitu banyak berimprovisasi setiap hari. Mengurusi bayi tidak pernah ilmunya kupelajari. Namun, apa yang harus kulakukan jika memang telah tak ada pilihan? Aku menikmati itu. Berusaha mengurusmu dengan baik, juga menenangkan tentara kecil kita supaya tangisnya tak meledak-ledak. “Terima kasih, Kang,” katamu setelah kubantu mengurusi kebutuhan kamar mandimu. Lima tahun ini apa keperluanku yang tidak engkau urus, Sayang? Mengapa hanya untuk pekerjaan kecil yang memang tak sanggup engkau lakukan sendiri, engkau berterima kasih dengan cara paling tulus sedunia? Lalu ke mana kata “terima kasih” yang seharusnya kukatakan kepadamu sepanjang lima tahun ini? Tahukah engkau, kata “terima kasih” mu itu membuat wajahmu semelekat maghnet paling kuat di kepalaku. Mengurusimu dan bayi kita. Lima hari itu, aku menemukan banyak gaya menangisnya yang kuhafal di luar kepala, agar aku tahu apa pesan yang ingin dia sampaikan. Gaya kucing kehilangan induk ketika ia buang kotoran. Gaya derit pintu ketika dia merasa kesepian, gaya tangis bayi klasik (seperti di film-film atau sandiwara radio) jika dia merasa tidak nyaman, dan paling istimewa gaya mercon banting; setiap dia kelaparan. Tidak ada tandingnya di rumah sakit bersalin yang punya seribu nyamuk namun tidak satu pun cermin itu. Dari ujung lorong pun aku bisa tahu itu tangisannya meski di lantai yang sama ada bayi-bayi lain menangis pada waktu bersamaan. Ah, indahnya. Tak pernah bosan kutatapi wajah itu lalu kucari jejak diriku di sana. Terlalu banyak jejakku di sana. Awalnya kupikir 50:50 cukup adil. Agar engkau juga merasa mewariskan dirimu kepadanya. Tapi memang terlalu banyak diriku pada diri bayi itu. Hidung, dagu, rahang, jidat, tangis ngototnya, bahkan detail cuping telinga yang kupikir tidak ada duanya di dunia. Ada bisik bangga, “Ini anakku… anak laki-lakiku. ” Tapi tenang saja, istriku, kulitnya seterang dan sebening kulitmu. Rambutnya pun tak seikal rambutku. Kuharap, hatinya kelak semembentang hatimu. Kupanggil dia Sena yang berarti tentara. Penggalan dari nama sempurnanya: Senandika Himada. Sebuah nama yang sejarahnya tidak serta-merta. Panjang dan penuh keajaiban. Senandika bermakna berbicara dengan diri sendiri; kontemplasi, muhasabbah, berkhalwat dengan Allah. Sedangkan Himada memiliki makna yang sama dengan Hamida atau Muhammad: YANG TERPUJI… dan itulah doa kita untuknya bukan, Sayang? Kita ingin dia menjadi pribadi yang terpuji dunia akhirat. Kaya nomor sekian, pintar pun demikian, terkenal apalagi. Yang penting adalah terpuji…mulia…dan ini bukan akhir kita, bukan, Honey? Ini menjadi awal yangindah. Awalku jatuh cinta (lagi) kepadamu. *persembahan buat setiap perempuan, dan ibu yang hatinya semembentang samudra Posted by Nisa Al-Khansa on 30 Mei 2011 (http://nisaalkhansa.wordpress.com/2011/05/30/dimana-lagi-kutemui-perempuan-sepertimu/#comment-548)