‘Menilai Orang’
Assalamu’alaikum wr.wb
Teman-teman, di baca ya kisah di bawah ini :
Suatu malam seorang wanita sedang menunggu di bandara, duduk santai membaca buku sambil sesekali tangannya merogoh kantong kue disampingnya. Beberapa saat baru ia tersadar, lelaki yang duduk di samping kanannya ternyata ikut mengambil dan memakan kuenya tanpa permisi. Sedetik hatinya langsung tak suka tapi ia membiarkan perbuatan laki-laki itu karena toh hanya sepotonh kue. Dari sepotong, sudut matanya kemudian melihat lelaki itu mencomot potongan kue kedua, ketiga, bahkan seterusnya, seusai ia mengambilnya tanpa sungkan sama sekali.
Dari yang awalnya rela, wanita itu semakin mangkel, dan yang lebih keterlaluan, ketika kue tinggal satu-satunya, lelaki itu mengambilnya, membagi dua, lalu tersenyum menyerahkan setengah potong padanya, “Oh God, sudah tidak berterimakasih, kurang ajarnya makin menjadi,. Kalau Aku bukan orang baik, sudah ku tonjok dia,” geram hati wanita itu sambil merampas setengan potong kue dengan kesal.
Ketika jadwal penerbangan di umumkan, segera ia kumpulkan barang bawaannya, melangkah menghentak tanpa sama sekali menoleh ke lelaki tadi. Di kursi pesawat yang empuk ia menghela nafas lega seraya mengambil buku dari dalam tas. Mendadak tangannnya menegang dan ia pun terhenyak. Kantong kuennya ada dalam tas. Masih utuh! Jadi tadi kue yang ia makan itu, yang ia sangka miliknya, ternya kepunyaan lelaki “pencuri kue” itu? Wajahnya memanas, sedih menyadari dirinyalah yang sudah mencuri kue dan tak tahu terima kasih.
Teman tahukah, melihat kekurangan orang memang lebih mudah dari pada melihat kekurangan diri sendiri. Lebih sulit lagi berlapang dada pada kekurangan orang. Menurut beberapa pendapat, melihat kekurangan orang lain bias menjadi pelajaran agar kita lebih majudan tidak jatuh pada kesalahan yang sama. Betulkah?
Sungguh sedikit sekali dampak baik yang bias kita ambil dari kebiasaan menilai kekurangan orang. Beruntung wanita tadi “ditegur” dari kesalahannya. Namun bagaimana kemudian ia bias menjadi pribadi yang baik atau tidak, tergantung pilihannya. Turun dari pesawat ia bias memilih terus menyesal karena merasa bukan orang baik. Atau menjadi pribadi baru yang baik hati dan pemurah karena berhasil mencontoh sikap lelaki yand di suudzoni-nya tadi.
Hal terakhir inilah yang jadi focus saya. Nilai tambah adalah suatu kelebihan yang tidak dimiliki orang kebanyakan. Bagi lelaki yang di sangka “pencuri” itu, murah hati adalah nilai tambahnya. Pengalaman membuktikan, focus kita pada apapun akan membuat ‘teman-teman fokus’ itu bermunculan. Jika focus pada yang positif, hal-hal positif lainnya niscaya akan muncul. Begitu juga sebaliknya. Maka fokuslah pada sekecil apapun nilai tambah orang lain, bukan niali kurangnya. Gabungkanlah nilai tambah itu untuk menjadi nilai tambah hidup kita, tanpa diiringi ‘tapi’. Dari hal yang tidak ada insya Allah akan menjadi ada.
Yang perlu diingat dan telah di buktikan oleh banyak orang nilai tambah kita akan member bonus kebahagiaan berlipat ganda ketika menjadi manfaat untuk orang banyak.
Di kutip dari majalah UMMi edisi Agustus 2010
semoga bermanfaat
wassalam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar